Sebuah kata, sebuah kalimat, ataupun sebuah konsep, yang keluar dari rahim kesadaran, tentunya memiliki makna. Tetapi bagaimanapun, sepenggal kata, seutas kalimat, lebih-lebih konsep yang manunggal, belum tentu mampu ditafsirkan oleh seseorang atau bahkan jutaan orang menafsirkannya. Alih-alih menemukan makna, justeru yang muncul adalah sebuah gugatan pada dirinya. Ya, Gugatan atas cara pandang!
Adalah sebuah keniscayaan, ketika kemudian kita harus tersesat dalam rimba raya pemaknaan itu. Sebuah pemaknaan yang tersesat oleh maknanya sendiri, yang terjerumus dalam jurang paradoks. Makna dengan demikian adalah rimba belantara yang dipenuhi paradoks-paradoks bernama cara pandang, konsepsi, dan atau paradigma.
“Tuhan sudah mati”, tegas Nietzscche, “kebenaran adalah apa yang harus ditertawakan”, sindir Baudrillard”. Entah apa makna dibalik kata-kata ini. Yang pasti, inilah “strategi mempermainkan bahasa”, ejek Derrida pada Saussure. Toh juga, “dunia (hanya) tempat bermain dan bersenda gurau”, kata Tuhan. Ujung-ujungnya, “kalaupun kita harus tersesat, kita harus tersesat di jalan yang benar,” ucap kawan-kawan dari HMI Cabang Malang Komisariat Hukum UMM.
Thursday, July 15, 2010
Wednesday, July 14, 2010
Untuk Diri (-ku)
Selamat datang wahai manusia
Dalam sejarah ruang dan waktu
Tempat mengada saling berpcu
Mengindera segala sesuatu
Dalam sejarah ruang dan waktu
Tempat mengada saling berpcu
Mengindera segala sesuatu
Jiwa baru saja berkelana
Mencari jejak-jejak fana
Menelusuri rimba raya tanya
Untuk sebuah jawaban, “siapa saya”?
Gunung pun menantang dari ketinggian
Dakilah, ‘ya aku’ sedang mananti puncaknya
Demi pucuk hasrat yang selalu membara
Lembah justru mengejek dari kebawahan
Menyindir realita yang kadang menutup mata dan telinga
Tidak mau mendengar bahasa sukma
Enggan melihat makna dari tanda-tanda
Padahal, ada lubang yang selalu menganga
Tidak kah usia ku sudah beranjak dewasa?
Yang seharusnya tahu mana tempat kaki berpijak
Ketahuilah, ini bumi,
Segumpal tanah hina
Rumah bagi segala kesempatan menentukan rencana
Tempat bagi ‘jika-maka’ berproses apa saja
Ya, ketahuilah!
‘jika-maka’ tahun berulang adalah sejarah
pasang-surut adalah cermin bagi wajah
haruskah kita berpaling dari fitrah?
Padahal ia bersemayam dalam hati muthmainnah
Yang bisa mengukir akal dalam pancaran hikmah
Jika…
Prosesi langkah yang panjang
Akal yang hikmah ibarat cahaya terang
Jadikanlah ia jalan berjuang
Maka…
Prosesi terungkapnya makna
Hati muthmainnah wujud jiwa yang tenang
Tancapkanlah ia sekuat karang
Inilah sejatinya fitrah!
Menelusuri rimba raya tanya
Untuk sebuah jawaban, “siapa saya”?
Gunung pun menantang dari ketinggian
Dakilah, ‘ya aku’ sedang mananti puncaknya
Demi pucuk hasrat yang selalu membara
Lembah justru mengejek dari kebawahan
Menyindir realita yang kadang menutup mata dan telinga
Tidak mau mendengar bahasa sukma
Enggan melihat makna dari tanda-tanda
Padahal, ada lubang yang selalu menganga
Tidak kah usia ku sudah beranjak dewasa?
Yang seharusnya tahu mana tempat kaki berpijak
Ketahuilah, ini bumi,
Segumpal tanah hina
Rumah bagi segala kesempatan menentukan rencana
Tempat bagi ‘jika-maka’ berproses apa saja
Ya, ketahuilah!
‘jika-maka’ tahun berulang adalah sejarah
pasang-surut adalah cermin bagi wajah
haruskah kita berpaling dari fitrah?
Padahal ia bersemayam dalam hati muthmainnah
Yang bisa mengukir akal dalam pancaran hikmah
Jika…
Prosesi langkah yang panjang
Akal yang hikmah ibarat cahaya terang
Jadikanlah ia jalan berjuang
Maka…
Prosesi terungkapnya makna
Hati muthmainnah wujud jiwa yang tenang
Tancapkanlah ia sekuat karang
Inilah sejatinya fitrah!
Makna Rasa
entah hujan, entah gerimis itu sama saja...
suatu peristiwa jatuhnya air dari langit...
membasahi alam semesta...
begitu pula suka & duka....
tiada yg berbeda....
sama2 memberi makna....
memperluas cakrawala....
memberi dinamika....
biarkan semuanya mengada.....
bermain dalam diri sang Ada.....
menciptakan jejak yg sejatinya tiada....
dalam sedalamnya jiwa..
demikianlah.... cinta bercerita tentang apa adanya.
tentang bentuk tandanya....
tentang makna tiadanya....
yg berada dimana2 & tdk kmana2....
suatu peristiwa jatuhnya air dari langit...
membasahi alam semesta...
begitu pula suka & duka....
tiada yg berbeda....
sama2 memberi makna....
memperluas cakrawala....
memberi dinamika....
biarkan semuanya mengada.....
bermain dalam diri sang Ada.....
menciptakan jejak yg sejatinya tiada....
dalam sedalamnya jiwa..
demikianlah.... cinta bercerita tentang apa adanya.
tentang bentuk tandanya....
tentang makna tiadanya....
yg berada dimana2 & tdk kmana2....
Kamu Memang Berbeda
Aku yg kamu dekonstruksi
Adalah gelaran teks
Yang kamu nodai
Yang kamu corat-coret
Aku yg kamu tangguhkan
Adalah buku usang yg trpajang di rak hati
Tidak kamu baca
Tidak kamu tandai
Aku 'sang pengarang yg mati'
Tidak kamu biarkan mnjadi makna
Tapi kamu tunda,'sbtas' tanda
Kamu memang 'yg lain'
Kamu bongkar aku dgn 'main-main'
Kamu jg tdk mau myalin
Tp aku justru kamu buat jalin-menjalin
dlm tafsir tanpa klaim
Kamu memang bnr2 'yg lain'
Tp bukan oposisi pasangan
Yang mninggalkan aq krna berbeda
Justru kamu mengafirmasi,meneguhkan
Bahwa cinta itu hadir krna kita memang 'tdk sama'
dlm yg smentara
dlm yg fana
Pasuruan, 4 juni 2010
Adalah gelaran teks
Yang kamu nodai
Yang kamu corat-coret
Aku yg kamu tangguhkan
Adalah buku usang yg trpajang di rak hati
Tidak kamu baca
Tidak kamu tandai
Aku 'sang pengarang yg mati'
Tidak kamu biarkan mnjadi makna
Tapi kamu tunda,'sbtas' tanda
Kamu memang 'yg lain'
Kamu bongkar aku dgn 'main-main'
Kamu jg tdk mau myalin
Tp aku justru kamu buat jalin-menjalin
dlm tafsir tanpa klaim
Kamu memang bnr2 'yg lain'
Tp bukan oposisi pasangan
Yang mninggalkan aq krna berbeda
Justru kamu mengafirmasi,meneguhkan
Bahwa cinta itu hadir krna kita memang 'tdk sama'
dlm yg smentara
dlm yg fana
Pasuruan, 4 juni 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)