Friday, August 6, 2010

Pentingnya jiwa kepemimpinan dan Pengetahuan bagi mahasiswa

Kepemimpinan kini sangat penting bagi kita sebagai mahasiswa yang tidak lain adalah sebagai penyambung aspirasi masyarakat nantinya. Pada era globalisasi ini menjadi seorang leader adalah sebuah kebutuhan pribadi yang memang harus dikonsumsi dengan baik oleh setiap individu. Peran mahasiswa begitu sentral dalam masa transisi ini ketika dihadapkan pada realita kehidupan yang tak menentu seperti sekarang ini. Gaya kepemimpinan seseorang sangat mempengaruhi perilaku maupun kinerja seorang individu, kelompok maupun dalam berorganisasi secara keseluruhan dan mengangkat derajat serta produktivitas seseorang yang nantinya akan bermuara pada etos kerja yang baik pula. Mahasiswa terkenal dengan gaya kepeloporannya, kekritisannya, dan kepemimpinannya. saat ini mahasiswa berada pada fase pengembangan diri untuk bisa berfikir bebas, kreatif, tanpa adanya sebuah unsur paksaan dan tekanan yang membuat semangat dan idealismenya menjadi mati. mahasiswa mempunyai tanggung jawab pada masyarakat bangsa ini untuk bisa tampil menjadi seorang leader ditengah keterpurukan moral dan mental bangsa ini dengan bertanggung jawab atas perannya sebagai "agen of change, agen of control, agen of transformation, dan agen of morality." Semoga...!!!. Paradigma ilmu pengetahuan yang berubah ubah setiap waktunya telah menjadi bagian dalam kehidupan mahasiswa pada umumnya. kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara tidak langsung telah menjadi momok tersendiri bagi individu dalam dunia akademisnya. Untuk era globalisasi ini bagi para insan akademisi diwajibkan untuk bisa bersaing dalam ketatnya persaingan untuk mendapatkan lahan penghidupan pada masa yang akan datang dimana kita siap menjadi seorang kompetitor yang tangguh di era modern ini. mahasiswa dengan sikap skeptis, praktis, dan analisis diharapkan mampu menjadi seorang kompetitor sejati dalam dunianya sebagai akademisi. mahasiswa dirasa juga perlu untuk ikut andil dalam perkembangan paradigma yang sewaktu-waktu berubah sesuai dengan iklimnya masing-masing, baik itu dari segi politik, ekonomi, sosial, dan budaya. dengan mengikuti perkembangan paradigma setiap waktunya. Untuk itu setiap mahasiswa diharapkan wajib mempunyai jiwa leader dengan diimbangi ilmu pengetahuan yang memadai tentunya.

Thursday, July 15, 2010

Makna itu......

Sebuah kata, sebuah kalimat, ataupun sebuah konsep, yang keluar dari rahim kesadaran, tentunya memiliki makna. Tetapi bagaimanapun, sepenggal kata, seutas kalimat, lebih-lebih konsep yang manunggal, belum tentu mampu ditafsirkan oleh seseorang atau bahkan jutaan orang menafsirkannya. Alih-alih menemukan makna, justeru yang muncul adalah sebuah gugatan pada dirinya. Ya, Gugatan atas cara pandang!

Adalah sebuah keniscayaan, ketika kemudian kita harus tersesat dalam rimba raya pemaknaan itu. Sebuah pemaknaan yang tersesat oleh maknanya sendiri, yang terjerumus dalam jurang paradoks. Makna dengan demikian adalah rimba belantara yang dipenuhi paradoks-paradoks bernama cara pandang, konsepsi, dan atau paradigma.

“Tuhan sudah mati”, tegas Nietzscche, “kebenaran adalah apa yang harus ditertawakan”, sindir Baudrillard”. Entah apa makna dibalik kata-kata ini. Yang pasti, inilah “strategi mempermainkan bahasa”, ejek Derrida pada Saussure. Toh juga, “dunia (hanya) tempat bermain dan bersenda gurau”, kata Tuhan. Ujung-ujungnya, “kalaupun kita harus tersesat, kita harus tersesat di jalan yang benar,” ucap kawan-kawan dari HMI Cabang Malang Komisariat Hukum UMM.

Wednesday, July 14, 2010

Untuk Diri (-ku)


Selamat datang wahai manusia
Dalam sejarah ruang dan waktu
Tempat mengada saling berpcu
Mengindera segala sesuatu

Jiwa baru saja berkelana
Mencari jejak-jejak fana
Menelusuri rimba raya tanya
Untuk sebuah jawaban, “siapa saya”?


Gunung pun menantang dari ketinggian
Dakilah, ‘ya aku’ sedang mananti puncaknya
Demi pucuk hasrat yang selalu membara
Lembah justru mengejek dari kebawahan
Menyindir realita yang kadang menutup mata dan telinga
Tidak mau mendengar bahasa sukma
Enggan melihat makna dari tanda-tanda
Padahal, ada lubang yang selalu menganga




Tidak kah usia ku sudah beranjak dewasa?
Yang seharusnya tahu mana tempat kaki berpijak
Ketahuilah, ini bumi,
Segumpal tanah hina
Rumah bagi segala kesempatan menentukan rencana
Tempat bagi ‘jika-maka’ berproses apa saja


Ya, ketahuilah!
‘jika-maka’ tahun berulang adalah sejarah
pasang-surut adalah cermin bagi wajah
haruskah kita berpaling dari fitrah?
Padahal ia bersemayam dalam hati muthmainnah
Yang bisa mengukir akal dalam pancaran hikmah


Jika…
Prosesi langkah yang panjang
Akal yang hikmah ibarat cahaya terang
Jadikanlah ia jalan berjuang


Maka…
Prosesi terungkapnya makna
Hati muthmainnah wujud jiwa yang tenang
Tancapkanlah ia sekuat karang
Inilah sejatinya fitrah!













 

Makna Rasa

entah hujan, entah gerimis itu sama saja...
suatu peristiwa jatuhnya air dari langit...
membasahi alam semesta...
begitu pula suka & duka....
tiada yg berbeda....
sama2 memberi makna....
memperluas cakrawala....
memberi dinamika....
biarkan semuanya mengada.....
bermain dalam diri sang Ada.....
menciptakan jejak yg sejatinya tiada....
dalam sedalamnya jiwa..
demikianlah.... cinta bercerita tentang apa adanya.
tentang bentuk tandanya....
tentang makna tiadanya....
yg berada dimana2 & tdk kmana2....

Kamu Memang Berbeda

Aku yg kamu dekonstruksi
Adalah gelaran teks
Yang kamu nodai
Yang kamu corat-coret

Aku yg kamu tangguhkan
Adalah buku usang yg trpajang di rak hati
Tidak kamu baca
Tidak kamu tandai

Aku 'sang pengarang yg mati'
Tidak kamu biarkan mnjadi makna
Tapi kamu tunda,'sbtas' tanda

Kamu memang 'yg lain'
Kamu bongkar aku dgn 'main-main'
Kamu jg tdk mau myalin
Tp aku justru kamu buat jalin-menjalin
dlm tafsir tanpa klaim

Kamu memang bnr2 'yg lain'
Tp bukan oposisi pasangan
Yang mninggalkan aq krna berbeda
Justru kamu mengafirmasi,meneguhkan
Bahwa cinta itu hadir krna kita memang 'tdk sama'
dlm yg smentara
dlm yg fana


Pasuruan, 4 juni 2010